Kolam Alam Limbong adalah sebuah kolam alam yang terletak di dusun Solo’, lembang
Limbong, kecamatan Rantepao. Dalam bahasa Toraja, limbong berarti sumber air yang tertampung. Berjarak sekitar 2 km atau 15 menit berkendara dari kota Rantepao, kolam ini merupakan milik tongkonan Batu Limbong yaitu Ne’ Palino’ secara turun-temurun sampai saat ini. Dikelilingi oleh pepohonan dan tebing yang kokoh, kolam ini berbatasan dengan hutan bambu Solo’ di sebelah utara, persawahan di sebelah barat dan selatan, serta dusun Tapon di sebelah timur.
Berbentuk bundar memanjang, kolam ini konon tidak pernah kering bahkan di saat musim kemarau. Ketika musim hujan, airnya akan meluap dan mengairi sawah yang ada di sekitarnya. Di kolam ini, hidup berbagai jenis ikan seperti ikan gabus, ikan mas, dan moa (belut bersar bertelinga) yang dalam bahasa Toraja disebut masapi.
Setiap pengunjung tidak diperkenankan memakai sarung, celana, baju, jaket atau topi yang berwarna hitam, karena diyakini akan berdampak negatif bagi pengunjung (sakit). Konon untuk mengobatinya cukup dengan membasuh muka 3 kali memakai air dari kolam ini.
Ada sebuah fabel yang menarik tentang kolam ini. Dahlu kala, ada seorang perempuan yang sangat cantik bernama Limbong (dewi Kolam Alam Limbong). Kecantikannya terdengar sampai ke negeri-negeri yang jauh, termasuk oleh Dewa dari gunung Sopai. Dewa gunung Sopai lalu datang untuk melamar Limbong. Lamaran tersebut diterima namun Limbong mengajukan sebuah syarat, yaitu pertarungan pasukan Dewi Kolam Limbong dengan Dewa gunung Sopai. Apabila Dewa gunung Sopai memenangkan pertarungan tersebut, ia boleh memperistri Dewi Kolam Limbong dan menimbun kolam Limbong untuk selamanya.
Ketika waktu pertarungan itu tiba, Dewi Kolam Limbong mengerahkan panglima perangnya yaitu seekor bukkang (kepiting) beserta bala tentaranya. Kepiting itu menjepit kedua kaki Dewa gunung Sopai hingga tidak bisa bergerak sama sekali. Setelah beberapa lama Dewa gunung Sopai mulai merasa kesakitan hingga tak berdaya. Duel itu akhirnya dimenangkan oleh bukkang. Dewa gunung Sopai kembali ke tempatnya bersama bala tentaranya dengan tangan kosong.
Narasumber : Yulianus Rotang
Penyusun : Debora Rante, S.Kom, Febrianto Lapu’, SS
Lokasi :Lembang Limbong, kecamatan Rantepao
Jarak Tempuh : 2 km dari kota Rantepao
Waktu Tempuh : 15 menit
Batas Objek : Hutan bambu Solo’ (Utara), persawahan (Selatan dan Barat), dusun Tapon (Timur)
Fasilitas :Gazebo, warung kopi, pondok, lumbung