Palawa' terletak 12 km sebelah Utara Rantepao, di Kecamatan Sa'dan. merupakan salahs atu lokasi perkampungan tradisional Toraja. terdapat 11 Tongkonan di perkampungan tradisional Toraja ini, Palawa' dapat dijangkau dengan menggunakan angkot Rantepao - Sa'dan kemudian dilanjutkan dengan berjalan kaki atau dengan menggunkan sepeda motor. foto by Sofyan Patrich Layuk. Palawa’ adalah sebuah kompleks tongkonan dan perkampungan adat dengan luas bangunan sekitar 1,5 hektar yang berdiri di atas lahan seluas 5 hektar. Berlokasi di keluarahan Palawa’, kecamatan Sesean, Palawa’ berjarak sekitar 11 km dari kota Rantepao dengan jarak tempuh sekitar 30 menit.
Menurut silsilah, orang pertama yang mendiami daerah Palawa’ adalah keturunan pertama dari Bangkelekila’, yang berasal dari sekitar gunung Sesean. Keturunan tersebut adalah To Madao yang berarti orang yang berasal dari tempat yang tinggi. Saat dewasa, To Madao pergi mengembara. Dalam pengembaraan itu, ia sampai di sebuah daerah yang luas dan subur namun belum terjamah oleh manusia. Oleh karena tidak bertuan, To Madao memutuskan untuk tinggal di tempat itu. Daerah yang luas itu diapit oleh tiga sungai dan merupakan pertemuan 4 empat aliran sungai, yaitu: sungai Sa’dan yang mengalir dari utara, sungai Kira yang mengalir dari timur, sungai Akung dan sungai Saloaya yang mengalir dari barat. Selain subur dan luas, daerah itu juga bebas dari binatang buas. Dalam bahasa setempat disebut padang pallawangan (tanah luas yang tidak berpenghuni). Dari kondisi alam padang pallawangan ini muncullah kata pallawa, yang kemudian berubah menjadi palawa’ yang lebih mudah dilafalkan. Di situ, To Madao bertemu dengan Membura Bubun, seorang perempuan dari gunung Tibembeng yang terletak di sebelah timur. Menurut kisah turun-temurun, perempuan ini ditemukan di dalam sebuah gua batu. Oleh tominaa (pemuka adat), ia disebut juga sebagai Tallo’ Mangka Kalena (secara etimologi bermakna telur atau makhluk hidup yang lahir sendiri). Setelah memperistri Membura Bubun, To Madao mendirikan sebuah pondok yang berbentuk seperti kelambu di daerah tersebut. Kelak, tempat itu diberi nama Kulambu yang sekarang merupakan lokasi kantor keluarahan Palawa’. Di tempat itu ada sebuah batu yang diyakini merupakan sisa peninggalan To Madao. Pada saat bulan purnama, batu itu sering mengeluarkan bunyi seperti gendang yang ditabuh atau suara lesung yang ditumbuk. Membura Bubun melahirkan empat orang anak dari perkawinannya dengan to Madao, yaitu: Ne’ Totaru, mendiami daerah barat yang disebut Palawa’ Ne’ Mawa, mendiami daerah selatan yang disebut Buntu Limbong (Pampang Dewata) Salombe, mendiami daerah yang disebut Mendedek Possengo, mendiami daerah timur yang di sebut Pasang.
Sejarah Perkampungan Asli Palawa’ (Asal Usul Tongkonan)
Ne’ Totaru yang mendiami daerah barat menikah dengan Bate-Bate yang berasal dari Deri. Mereka mendirikan sebuah tongkonan yang dinamakan tongkonan Buntu (tongkonan Mula-mula). Dari perkawinan tersebut, lahir seorang anak bernama Ne’ Bangko yang kemudian kawin dan melahirkan 4 (empat ) orang anak yaitu: Ne’ Nannung, Ne’ Matasik, Ne’ Salenu, dan Ne’ Saleko. Keturunan inilah yang langsung mendirikan beberapa tongkonan di Palawa’. Selain itu, beberapa tongkonan lain juga dibangun oleh keturunan dari Ne’ Mawa, Salombe, dan Possengo serta generasi dari hasil kawin mawin antar keluarga dari keturunan To Madao dan Membura Bubun.
Saat ini, ada dua belas tongkonan yang ada di lokasi objek Palawa’. Tongkonan tersebut adalah:
1. Tongkonan Salassa’ dibangun oleh Salassa’ sekitar tahun 1800
2. Tongkonan Buntu dibangun oleh Ne’ To Taru sekitar tahun 1788
3. Tongkonan Ne’ Niro dibangun oleh Ne’ Randan sekitar tahun 1882
4. Tongkonan Ne’ Dorre dibangun oleh Ne’ Matasik sekitar tahun 1828
5. Tongkonan Ne’ Sapiah dibangun oleh Ne’ Sapiah tahun1830
6. Tongkonan Katik dibangun oleh Ne’ Pipe tahun 1828
7. Tongkonan Kambu dibangun oleh Ne’ Kambu tahun 2019
8. Tongkonan Ne’ Malle dibangun oleh Ne’ Malle tahun 1845
9. Sasana Buday dibangun oleh Kepurbakalaan tahun 1975
10. Tongkonan Bamba dibangun sekitar tahun 1952
11. Tongkonan Ne’ Babu dibangun oleh Ne’ Babu sekitar tahun 1850
12. Tongkonan Babba-Babba dibangun sekitar tahun 1860
Seluruh masyarakat Palawa’ dan keturunannya memiliki huubungan dengan setidaknya satu dari sebelas tongkonan tersebut.
Peranan Tongkonan dalam Masyarakat.
Tongkonan tidak hanya merupakan tempat tinggal, namun memiliki peran lain yang tak kalah penting bagi masyarakat Toraja.
-
Tempat Memngetahui Silsilah.
Seseorang dapat mengetahui hubungan darah daging atau ikatan persaudaraan dengan orang lain bila mengetahui salah satu tongkonan di mana nenek moyang mereka lahir dengan 3 (tiga) basse tongkonan yaitu: tongkonan dinii dadi (tempat kita lahir), tongkonan dinii tuo (tempat Kita hidup), dan tongkonan dinii mate (tempat kita mati).
-
Tempat Pelaksanaan Kegiatan Adat baik Rambu Solo’ maupun Rambu Tuka’.
Narasumber : Roslin Mangiwa
Penyusun : Karniati Lebonna P, ST, Naomi Tangsirerung, SE
Lokasi : kelurahan Palawa’, kecamatan Sesean
Jarak Tempuh : 11 km dari kota Rantepao
Waktu Tempuh : 30 menit
Batas Objek : Persawahan (Utara, Selatan), jalan poros (Timur), hutan bambu (Barat)
Fasilitas : Kios Suvenir, Toilet, Warung Kopi