Ke'te' Kesu'

 about-img
Ke’te’ Kesu’ merupakan sebuah kawasan perkampungan adat Toraja dengan komponen yang lengkap. Berlokasi di kelurahan Panta’nakan Lolo, kecamatan Kesu’, Ke’te’ Kesu’ memiliki tongkonan (rumah adat), alang (lumbung), liang (area pemakaman), rante (tempat upacara adat pemakaman), sawah, dan area penggembalaan kerbau. Pohon bambu yang merupakan bahan utama dalam setiap upacara adat dan untuk pembuatan rumah juga tersedia di area pemukiman dan pemakaman.

Dengan jarak 15 km dari pusat kota Rantepao, Hanya butuh waktu sekitar 15 menit untuk sampai di kawasan ini.
Ada lima (5) tongkonan dan lima belas (15) alang yang ada di Ke’te’ Kesu’ yang dibangun sesuai dengan tradisi yang ada di masyarakat Toraja. Tongkonan terbesar adalah tongkonan Puang Ri Kesu’ yang berada di bagian tengah jejeran tumah. Tongkonan ini merupakan tongkonan tertua (tongkonan layuk) di wilayah Kesu’ yang dibangun oleh pemimpin pertama di wilayah Kesu’. Sebuah kepala kerbau yang terbuat dari kayu (kabongo) dan ukiran ayam jantan (katik) dipasang di bagian depan tongkonan. Saat ini terdapat beberapa tongkonan  lain yang didirikan di sekitar area Ke’te’ Kesu’ yang berasal dari Tongkonan Puang Ri Kesu’ ini. Tongkonan Rura saat ini difungsikan sebagai museum, yang menjadi semacam contoh hasil kebudayaan material Toraja.



Area upacara adat (rante) berada di bagian utara yang berjarak sekitar 50 meter dari tongkonan dan memiliki luas sekitar 2000 m2. Sekitar 17 buah menhir (simbuang) berdiri di rante tersebut. Ukurannya bervariasi, mulai dari yang paling besar berukuran tinggi 3,85 m dan ketebalan batu 0.9 m hingga menhir terkecil berukuran tinggi 0.4 m dan tebal 0.4 m.

Area pekuburan berada di bagian lereng bukit karst, tepatnya di arah selatan atau bagian belakang tongkonan. Di situ terdapat peti mati (erong) yang diletakkan di tanah, di dalam ruang gua (liang lo’ko’), dan digantung di tebing (kubur gantung). Erong berbentuk menyerupai hewan (kerbau dan babi) dan rumah tongkonan. Menurut tradisi tutur yang berkembang bentuk hewan merupakan bentuk yang pertama kali digunakan. Pada awalnya erong berbentuk kerbau ditujukan untuk laki-laki sementara yang berbentuk babi untuk perempuan. Namun pada perkembangan selanjutnya bentuk erong menyerupai hewan hanya diperuntukkan bagi orang meninggal yang belum berkeluarga. Peti kubur berbentuk rumah adat (patane) relatif baru di Ke’te’ Kesu’. Bentuknya berupa peti yang terbuat dari kayu yang diletakkan pada sebuah miniatur rumah adat, namun saat ini ada juga patane yang terbuat dari tembok. Tau-Tau sebagai representasi orang yang dimakamkan dipasang di depannya. Penggunaan gua alam (liang lo’ko’) sendiri sebagai tempat penguburan, tidak lepas dari bentuk peringatan dan penghormatan kepada leluhur yang datang pertama kali di Kesu’ (Puang Ri Kesu’) dan menginap di gua alam sebelum membangun tongkonan. Setelah meninggal, jenazah Puang Ri Kesu’ dimasukkan ke dalam erong dan disimpan di dalam gua.


Kawasan adat Ke’te’ Kesu’ juga memiliki sawah adat sebagai sumber utama untuk menghidupi tongkonan sehari-hari dan untuk keperluan upacara adat. Sawah adat tersebut berada di sisi utara dan memiliki luas sekitar 320 ha. Hutan bambu sebagai komponen utama dalam setiap pelaksanaan upacara adat juga bisa dijumpai di sisi selatan antara kompleks tongkonan dengan area pekuburan. Tempat penggembalaan kerbau sebagai salah satu komponen dalam Tongkonan Ke’te’ Kesu’ terletak di sisi utara tongkonan, tepatnya di sekitar daerah Buntu Kana.

Menurut genealogi “Pa’puangan”, anggota tertua dari Tongkonan Kesu’ adalah Puang Ri Kesu’ yang hidup pada sekitar abad VIII. Tongkonan tersebut dibangun secara terpisah-pisah, namun pada tahun 1908 kelimanya yakni To’Sendana, Puang Ri Kesu’, Tonga, Rura’, dan Barongsa’lau  dikumpulkan di satu lokasi menjadi Tongkonan Bamba dan bertahan sampai sekarang.

Narasumber       : Layuk Sarungallo, Amos Andaso
Penyusun            : Yudith Parubak, SE, Agustinus, SS

Lokasi                   : kelurahan Panta’nakan Lolo, kecamatan Kesu’
Jarak Tempuh     : 5 km dari kota Rantepao

Waktu Tempuh  : 15 menit
Batas Objek        : jalan raya dan persawahan (Utara), kuburan batu (Selatan), persawahan dan pemukiman (Barat, Timur)
Fasilitas               : Café, gazebo, toilet, musala, kios tenun dan souvenir, warung