Dengan kekayaan alam yang melimpah dan tanah yang subur masyarakat Toraja secara turun temurun dulunya hidup dari tanah pertanian yang dikelola secara gotong royong dimana kebersamaan dalam bentuk gotong royong dan saling membantu begitu melekat bahkan membudaya sampai saat ini.
Pada jaman dulu, untuk mengolah hasil pertanian terutama padi hingga menjadi beras kemudian dapat di makan, menggunakan cara manual yaitu dengan menumbuk padi pada wadah yang tebuat dari kayu dan sekilas berbentuk perahu yang bernama Issong dilengkapi dengan alat tumbuk bernama alu.
Seperti yang kita ketahui pada jaman dahulu kala, dengan kehidupan yang tidak mudah, tidak semua orang memiliki "Issong" ini sehingga selain sebagai alat untuk menumbuk padi, Issong juga menjadi simbol status sosial di masyarakat Toraja Jaman dahulu.
Kini, seiring perkembangan teknologi, padi dengan mudahnya dapat diubah menjadi beras oleh mesin penggiling padi tetapi keberadaan Issong dan Alu tidak serta merta tergerus oleh perkembangan jaman.
Sampai saat ini Issong masih melambangkan "keberadaan" suku Toraja terutama pada acara prosesi pemakaman.
Issong dan Alu akan bersatu padu mengeluarkan "bunyi khas", ayunan alu yang di lakukan oleh para wanita Toraja pada Issong turut meramaikan suasana prosesi pemakaman di "waktu dan tempat " tertentu pada acara adat Toraja, hal ini melambangkan status sosial seseorang atau keluarga yang tengah melaksanakan upacara adat tersebut.
Naskah : Mahar
Destinasi budaya Lainnya
Terdapat banyak destinasi budaya yang wajib dikunjungi
di Sulawesi Selatan