Rambu Solo’ adalah sebuah upacara pemakaman secara adat yang mewajibkan keluarga almarhum membuat sebuah pesta sebagai tanda penghormatan terakhir pada mendiang yang telah pergi. Dalam rambu solo’ terdapat tari Ma’badong. Tari yang hanya dilakukan pada saat ada kematian, ini memilki gerakan khas, membuat lingkaran dengan bergandengan tangan sambil menyanyikan lagu kedukaan.
Makna dalam gerakan ini adalah semua keluarga merasakan berduka dan saling menghibur. Menurut Tangdilintin, Ma’badong pada upacara rambu solo’ adalah ratapan atau cara leluhur Toraja mengungkapkan sejarah hidup almarhum atau almarhumah. Ma’badong dilakukan oleh para lelaki dan wanita ataupun juga dari desa lain yang kebetulan datang atau dipanggil keluarga almarhum dan dilakukan secara bersama-sama dalam bentuk lingkaran sambil berpegangan tangan. Ma’badong dipimpin oleh seorang laki-laki yang disebut sebagai pa’tindok.
Pa’tindok bertugas untuk mengarahkan pa’badong untuk melakukan gerakan sesuai dengan syair yang akan dinyanyikan.
Ma’badong adalah warisan tradisi dan adat yang diwariskan oleh leluhur orang Toraja secara Turun temurun. Dalam budaya Toraja terdapat banyak makna simbolik yang bahkan generasi muda Toraja sendiri sebagai pemilik warisan budaya, belum tentu tahu dan paham akan makna dan tujuan dari segala aktivitas yang terdapat pada ritual upacara-upacara adat yang dilangsungkanyaknya.
Menurut Fransiskus Sulle Paseno, Makna simbolik Ma’badong artinya suatu ungkapan duka atau tangis kepada arwah yang meninggal.
Menurut Petrus Tandi Ra’pe, Bentuk-bentuk simbol nonverbal yang terdapat dalam upacara rambu solo’ adalah Tombi atau Bendera, Gandang aau Gendang, Bombongan atau Gong, Maa atau Kain berukir, Sesaji, Kuang-Kuang, Tedong atau Kerbau, dan Kain Hitam.
1. Makna simbol Verbal
Simbol verbal Ma’badong dibagi menjadi empat bagian, yaitu :
badong pa’pakilala (badong nasihat),
badong umbating (badong ratapan),
badong ma’palao (badong berarak), dan
badong pasakke (badong selamat atau berkat).
2. Makna simbol Nonverbal
Rangkaian dalam pelaksanaan upacara rambu solo’ di Toraja adalah peralatan. Peralatan- peralatan dalam upacara mempunyai arti dan makna tersendiri.
Tangdilintin mengemukakan macam-macam peralatan yang biasa digunakan dalam upacara rambu solo’ di Toraja, antara lain sebagai berikut.
a. Tombi atau Bendera
Tombi yaitu fandel atau bendera yang dibawa oleh keluarga pada saat acara ma’pasonglo’ yang panjangnya disesuaikan dengan kebutuhan. Kain panjang tersebut menggambarkan keagungan dan ketinggian upacara pemakaman dan hanya digunakan oleh bangsawan tinggi di Toraja
b. Gandang atau Gendang
Gandang atau gendang yaitu alat yang dipukul sebagai pengatur dan tanda peralihan acara-acara pemakaman. Maknanya agar upacara yang berlangsung semakin meriah. c. Bombongan atau Gong
Bombongan yaitu gong yang ditabu menandakan tangis kepiluan bagi keluarga-keluarga bangsawan orang Toraja sebagai tanda yang terus menerus dibunyikan pada saat acara berlangsung.
d, Maa atau Kain Berukir
Maa atau kain berukir adalah tanda kemuliaan dan keagungan dari orang Toraja. digunakan untuk membungkus kerbau untuk mengarak mayat, membungkus peti mati, dan menghias lantang (Pondok).
e. Sesaji
Sesaji berupa makanan yang disajikan oleh keluarga untuk orang yang sudah meninggal, karena di percaya arwah orang yang sudah meninggal masih berkeliaran di sekitar rumah. f. Kuang-Kuang
Tanda upacara yang diletakkan di depan sebagai upacara Aluk To Dolo yang menganut ajaran yang turun temurun dalam membinah arwah leluhur dalam empat penjuru alam juga diajukan untuk kaum bangsawan. Simbol kuang-kuang ini berupa bambu yang disusun dan dihiasi dengan hiasan-hiasan Toraja dan juga menggunakan bulu ayam yang melambangkan strata atas dan di pasang sebelum memotong hewan kurban. g. Kerbau
Kerbau merupakan hewan yang turut dikurbankan dalam upacara rambu solo’ dan dipersembahkan sebagai tanda cinta kasih keluarga kepada Almarhum. h. Kain Hitam
Kain hitam wajib digunakan pada saat upacara rambu solo’ baik itu berupa baju maupun sarung. Dimana warna hitam ini melambangkan kedukaan.
Artikel : MAKNA SIMBOLIK MA’BADONG PADA MASYARAKAT SUKU TORAJA
Oleh :
1. Graselita Palimbong
2. Ali Karim Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Tadulako
email : gracelitapalimbong22@gmail.com
Destinasi budaya Lainnya
Terdapat banyak destinasi budaya yang wajib dikunjungi
di Sulawesi Selatan